in

Sudah Dapat Belum? Uang Rupiah Edisi Khusus Perjuangan Angkatan ’45 Berbahan Emas, Lebih Besar dari Uang Koin Kelapa Sawit

Sudah Dapat Belum? Uang Rupiah Edisi Khusus Perjuangan Angkatan ’45 Berbahan Emas, Lebih Besar dari Uang Koin Kelapa Sawit

Sudah Dapat Belum? Uang Rupiah Edisi Khusus Perjuangan Angkatan '45 Berbahan Emas, Lebih Besar dari Uang Koin Kelapa Sawit
instagram/bank_indonesiaBank Indonesia pernah mengeluarkan uang Rupiah Perjuangan Angkatan ’45 

VOICE – Tidak lama lagi Bangsa Indonesia akan memperingati HUT ke-76 Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 2021.

Sejak merdeka pada 17 Agustus 1945, Indoneia memulai tahapan bernegara termasuk menentukan mata uang sendiri.

Sehingga keberadaan mata uang rupiah erat kaitannya dengan momen kemerdekaan bangsa.

Bank Indonesia pernah menerbitkan uang koin Rupiah edisi khusus Perjuangan Angkatan ’45.

Uang koin Perjuangan Angkatan ’45 bergambar burung garuda dan terbuat dari bahan emas 23 karat.

Uang edisi ini bernilai lebih besar dari uang koin kelapa sawit.

Sebelum mengetahui lebih lanjut ada baiknya disimak sejarah rupiah.

Sebelum memakai mata uang rupiah, Indonesia pernah memakai beberapa mata uang untuk bertransaksi di masyarakat.

Apalagi Indonesia pernah berada pada masa kerajaan maupun penjajahan, baik Belanda Jepang.

Dikutip situs Bank Indonesia (BI), pada masa kerajaan, telah menggenal dan menggunakan berbegai tipe uang yang berupa logam.

Bahkan ada yang memakai sistem barter atau saling tukar untuk mendapatkan barang.

Setelah kedatangan penjajah, Indonesia yang waktu itu bernama Hindia Belanda mengenal berbagai macam uang, seperti Sen atau Gulden yang diterbitkan oleh De Javasche Bank.

Dilansir Encyclopaedia Britannica (2015), rupiah menjadi mata uang resmi Indonesia pada 1949.

Di mana menggantikan mata uang guilder Hindia Belanda.

Selama 1950 an mata uang rupiah sangat terdepresiasi atau turunnya nilai.

Mata uang rupiah dikeluarkan pada 1965, nilai tukar adalah 1.000 rupiah lama untuk 1 rupiah baru.

Dilansar situs Kementerian Keuangan (Kemenkeu), pada 1 Oktober 1945, Pemerintah Indonesia menetapkan berlakukan mata uang bersama di wilayah Indonesia, yakni uang De Javasche Bank dari Hindia Belanda dan uang Jepang.

Pada 29 September 1945, Menteri Keuangan A.A Maramis mengeluarkan dekrit dengan tiga keputusan penting, yakni:

Tidak mengakui hal dan wewenang pejabat pemerintahan Jepang untuk menerbitkan dan menandatangi surat-surat perintah membayar uang dan lain-lain dokumen yang berhubungan dengan pengeluaran negara.

Terhitung mulai 29 September 194, hak dan wewenang pejabat pemerinthan Jepang diserahkan kepada pembantu bendahara negara yang ditunjuk dan bertanggungjawab pada menteri keuangan. Rupiah edisi khusus


Kantor-kantor kas negara dan semua instansi yang melakukan tugas kas negara (kantor pos) harus menolak pembayaran atas surat perintah membayar uang yang tidak ditandatangani oleh Pembantu Bendahara Negara.

Setelah dekrit diterbitkan, maka berakhirlah masa “Nanpo Gun Gunsei Kaikei Kitein” (Peraturan Perbendaharaan Pemerintah Bala Tentara Angkatan di Daerah Selatan).

Selanjutnya dimulailah babak baru pengurusan keuangan negara yang merdeka.

Pada 2 Oktober 1945, pemerintah mengeluarkan maklumat yang menetapkan uang NICA tidak berlaku.

Pada, 3 Oktober 1945 pemerintah menentukan jenis-jenis uang yang sementara berlaku.

Terbitnya Oeang Republik Indonesia

Pada 7 November 1945, Menteri Keuangan A.A Marami membentuk Panitia Penyelenggara Pencetakan Uang Kertas Republik Indonesia. Rupiah edisi khusus

Panitia tersebut diketuai oleh T.R.B. Sabaroedin dari Kantor Besar Bank Rakyat Indonesia (BRI) yang anggotanya terdiri dari Kementerian Keuangan, Kementerian Penerangan, Serikat Buruh Percetakan yaitu Oesman dan Aoes Soerjatna.

Karena pemerintah berencana akan menerbitkan Oeang Republik Indonesia (ORI).

Pencetakan oeang pertama dilakukan pada Januari 1946 di Jakarta. Pada Mei 1946, situasi keamanan tidak kondusif, maka pencetakan uang di Jakarta dihentikan.

Pencetakan beralih ke kota-kota, seperti Yogyakarta, Surakarta, Malang, dan Ponorogo.

ORI ditetapkan secara sah mulai 30 Oktober 1946 pukul 00.00 WIB. Undang-Undang, 1 Oktober 1946 menetapkan penerbitan ORI.

Pada ORI penerbitan pertama yang berlaku mulai 30 Oktober 1946 tercantum tanggam emisi 17 Oktober 1945.

Dengan penerbitan ORI, pemerintah kemudian menarik uang invasi Jepang dan Hindia Belanda yang beredar.

Penarikan dilakukan berangsur-angsur lewat pembatasan pemakaian uang dan larangan membawa uang dari dari daerah ke daerah lain.

Pada 1949 digelar perjanjian Konferensi Meja Bundar (KMB) antara Belanda dan Indonesia. Salah satu hasilnya dibentuk Republik Indonesia Serikat (RIS) yang terdiri dari beberapa wilayah.

Kemudian untuk menyeragamkan uang di wilayah RIS, Menteri Keuangan Sjafruddin Prawiranegara diberi kuasa untuk mengeluarkan uang kertas. Karena pada waktu juga muncul Oeang Republik Indonesia Daerah (ORIDA).

Sejumlah uang yang tertulis pada waktu itu dalam rupiah RIS. Pada 27 Maret 1950 telah dilakukan penukaran ORI dan ORIDA dengan uang baru yang diterbitkan dan diedarkan oleh De Javacche Bank.

Namun masa edar uang tersebut tidak lama seiring dengan terbentuknya kembali NKRI. Pada waktu itu uang yang beredar di Indonesia terlalu banya.

Kemudian Menteri Keuangan, Sjafruddin Prawirnegara membuat kebijakan untuk menggunting uang yang nilainya Rp 5,00 ke atas.

Kebijakan tersebut dikenal dengan Gunting Sjafruddin.

Uang Rupiah Perjuangan Angkatan ’45

Uang edisi khusus Perjuangan Angkatan '45
Uang edisi khusus Perjuangan Angkatan ’45 (instagram/bank_indonesia)

1.Pecahan Rp 125 Ribu

  • Tahun Penerbitan: 1990
  • Gambar Muka: Burung Garuda
  • Gambar Belakang: Gedung Joeang 45
  • Bahan: Logam Emas Kadar 24 karat

2. Pecahan Rp 250 Ribu

  • Tahun Penerbitan: 1990
  • Gambar Muka: Burung Garuda
  • Gambar Belakang: Kepulauan Indonesia
  • Bahan: Logam Emas kadar 23 karat

3. Pecahan Rp 750 ribu

  • Tahun Penerbitan: 1990
  • Gambar Muka: Burung Garuda
  • Gambar Belakang: Logo Dewan Harian
  • Bahan: Logam Emas 23 karat

sumber: tribunnews

SIMAK JUGA

Waduh! Virus Corona Kembali Muncul di Wuhan, Seluruh Warga Diperiksa Merata

Cukup Input Nomor KTP di Link Ini, Ambil Bantuan PKH Rp 600 Ribu dan Beras 10 kg dari Pemerintah